Disclaimer. Paparan Sejarah dan Perkembangan Jemaat Grogol ini diambil dari Buku Panduan Pendewasaan GKJ Bejiharjo, Edisi 11 April 2009. Paparan didasarkan pada informasi para pelaku sejarah dan narasumber yang terkait dengan perkembangan jemaat di wilayah Grogol. Pencantuman nama-nama yang tertera berikut tidak ada maksud untuk penonjolan diri atau keluarga besarnya, namun semata karena yang bersangkutan memang terlibat dalam sejarah perkembangan jemaat di wilayah ini. Penulisan sejarah perkembangan jemaat senantiasa terbuka atas upaya yang bersifat membangun, memperlengkapi dan/atau mengkoreksinya bilamana perlu.

——————–

Dari Timur ke Barat

Sejarah lahirnya Pepanthan Grogol tak dapat dipisahkan dengan sejarah perkembangan Pepanthan Bejiharjo, mengingat sebelum peningkatan status sebagai pepanthan, Jemaat Grogol merupakan Kring (bagian wilayah) dari Pepanthan Bejiharjo. Oleh karena itu, sejarah Pepanthan Grogol melekat pada sejarah pertumbuhan Pepanthan Bejiharjo. Ini adalah sebuah fakta, yang dimungkinkan juga terkait dengan sejarah Desa Bejiharjo. Bejiharjo di masa era Orde Lama merupakan desa yang sebelumnya merupakan penggabungan dari 3 (tiga) desa, yaitu: Desa Ngringin, Desa Banyubening, dan Desa Grogol. Secara geografis, Desa Bejiharjo juga merupakan desa terluas di Kecamatan Karangmojo, yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Wonosari, pusat kegiatan sosio-ekonomi dan pertumbuhan di wilayah Kabupaten Gunungkidul.Sejarah perkembangan kekristenan di wilayah Grogol dapat diibaratkan sebuah perjalanan musafir dari Timur ke Barat, tepatnya kekristenan berkembang dari Ngringin, Kulwo, Gunungsari, kemudian ke wilayah Grogol.

Berdirinya Sekolah Minggu di Grogol

Pada tahun 1965 Pepanthan Bejiharjo membuka Sekolah Minggu di Dusun Grogol yang menempati rumah keluarga Sutrisno. Jumlah anak Sekolah Minggu yang mengikuti kebaktian pada awalnya masih sangat sedikit. Generasi pertama murid Sekolah Minggu di Grogol antara lain adalah: Kiman, Wasiman, Supadmiyati, Suwarti, Purwani, dan Tutik. Mereka inilah tokoh-tokoh kecil yang akhirnya menjadi cikal bakal pertumbuhan jemaat di Grogol. Pamong Sekolah Minggu pada waktu itu dilayani dari Kring Ngringin, Kring Kulwo, dan Kring Gunungsari. Dalam perkembangannya, tempat kegiatan Sekolah Mingggu di Grogol sempat berpindah-pindah, di antaranya menempati rumah Keluarga Sutrisno, rumah Keluarga Kiman, rumah Keluarga Wasiman, rumah Keluarga Kariyosentono. Sekolah Mingggu di Grogol pun juga pernah menumpang di gedung SD Negeri Bangubening II.

Berdirinya Pepanthan Grogol

Seiring dengan waktu yang berjalan dan perkembangan jumlah jemaat Kristen yang semakin bertambah secara kuantitas, sedangkan cakupan wilayah pelayanannya yang luas sekali dengan jarak antar satu kelompok dengan yang lainnya cukup berjauhan dan kondisi sangat minim sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi di waktu itu, serta disebabkan pula oleh kapasitas gedung peribadatan yang sudah tidak memadai lagi, maka dengan pelan namun pasti jemaat Pepanthan Bejiharjo berusaha untuk menyiapkan pepanthan baru yaitu Pepanthan Grogol.

Persiapan untuk itu dirintis sejak tahun 1985, dimana kelompok Jemaat Grogol telah mampu menyelenggarakan peribadatan sendiri dengan sarana dan prasarana yang sederhana. Peribadatan di Jemaat Grogol pertama kali menumpang di rumah Keluarga Antonius Kiman di Dusun Grogol IV, yang berjalan selama kurang lebih 2 tahun sembari menyiapkan rumah ibadah secara permanen. Dengan berbagai upaya yang dilakukan secara swadaya oleh Jemaat Grogol maupun oleh Gereja baik Induk GKJ Wiladeg maupun Pepanthan Bejiharjo, pada pada tahun 1987 kelompok jemaat Grogol telah berhasil membeli sebidang tanah seluas 225 m2 seharga Rp 700.000,00 dari tanah milik Sutrisno Hs, salah satu anggota jemaat Grogol yang berada di Dusun Grogol IV. Di tanah inilah, kelompok Jemaat Grogol membangun rumah ibadah sebagaimana yang diidam-idamkan sejak lama.

Pembangunan gedung gereja Pepanthan Grogol tersebut menghabiskan dana tak kurang dari Rp 1.723.640,00 dengan rincian biaya sebesar Rp 811.140,00 berasal dari swadaya jemaat dan sisanya berasal dari bantuan bergai pihak. Pada tahap berikutnya, gedung gereja ini diperluas dengan membuat teras dan menghabiskan dana sebesar Rp 212.500,00.

Karena telah memiliki tempat peribadatan sendiri dan jumlah warga pun cukup banyak dan makin bertumbuh dewasa dalam kemampuannya, selanjutnya kelompok Jemaat Grogol dianggap mampu untuk menyelenggarakan peribadatan, pelayanan khusus, dan kegiatan lain-lainnya secara tersendiri. Dengan pertimbangan itulah, melalui proses persidangan Majelis GKJ Wiladeg akhirnya ditetapkan kelompok Jemaat Grogol dipandang mampu dan layak untuk berdiri sendiri sebagai Pepanthan terlepas dari Pepanthan Bejiharjo. Pada hari Minggu tanggal 22 Mei 1988, kelompok Jemaat Grogol disahkan dan dinyatakan sebagai Pepanthan baru dan menjadi bagian dari GKJ Wiladeg yang memiliki hak dan kedudukan yang sama dengan pepanthan-pepanthan lainnya dalam wilayah pelayanan GKJ Wiladeg.

Demikianlah dalam sejarah perkembangan gereja dapat disaksikan bahwa perkembangan kekristenan itu terutama adalah buah pemberitaan orang-orang yang berpindah-pindah. Dari tiap-tiap tempatnya yang baru, mereka tidak tinggal diam begitu saja, melainkan selalu menceritakan dan menuturkan segala perbuatan Allah dan kasihNya yang setia dan besar kepada umat manusia. Hal ini merupakan kenyataan yang terjadi di wilayah Grogol Desa Bejiharjo, perkembangan kekristenan adalah sebagaimana terurai tersebut di atas. Berdirinya dan tegaknya Pepanthan Grogol sampai saat ini juga tak lepas dari jerih juang dan kerja keras yang dilakukan oleh jemaat yang terpanggil akan pemberitaan kasih Allah kepada umatNya.

Bakso dari Grogol

Grogol sebelumnya merupakan wilayah desa atau kelurahan tersendiri. Saat penggabungan menjadi Desa Bejiharjo, wilayah dusun di Grogol terbagi dalam 6 (enam) dusun, sehingga disebut Grogol I, Grogol II, dan seterusnya sampai Dusun Grogol VI. Salah satu ciri khas wilayah Grogol adalah banyaknya warga di wilayah pedusunan ini yang berwiraswasta sebagai pembuat dan pedagang bakso di daerah perkotaan Yogyakarta dan sekitarnya. Bakso bikinan dari Grogol memiliki cita rasa yang khas dan cukup digemari oleh para pembeli di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Berkah rejeki melalui usaha wiraswasta bakso ini cukup kental dan sangat terasa trickle down effect-nya dalam mengangkat kondisi sosio-ekonomi keluarga-keluarga pedusunan Grogol, baik yang tetap ditinggalkan di desa maupun yang “merantau” atau “boro” di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Keluarga Sutrisno Hs adalah salah satu warga jemaat Grogol, wiraswasta bakso yang juga turut memiliki andil dalam sejarah perkembangan kekristenan di Pepanthan Grogol.

Comments on: "Pepanthan Grogol: Sejarah dan Perkembangannya" (2)

  1. pwr_grogol V said:

    Bravo Grogol, Makin Jaya selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: