Sejarah Jemaat Bejiharjo

Disclaimer. Paparan Sejarah dan Perkembangan Jemaat Bejiharjo ini diambil dari Buku Panduan Pendewasaan GKJ Bejiharjo, Edisi 11 April 2009. Paparan didasarkan pada informasi para pelaku sejarah dan narasumber yang terkait dengan perkembangan jemaat di wilayah Bejiharjo. Pencantuman nama-nama yang tertera berikut tidak ada maksud untuk penonjolan diri atau keluarga besarnya, namun semata karena yang bersangkutan memang terlibat dalam sejarah perkembangan jemaat di wilayah ini. Penulisan sejarah perkembangan jemaat senantiasa terbuka atas upaya yang bersifat membangun, memperlengkapi dan/atau mengkoreksinya bilamana perlu.

——————–

Hari Sabtu Wage 11 April 2009 yang Bersejarah

Sabtu Wage, 11 April 2009. Di tengah suasana masa Paskah dan MPDK 2009, ketiga pepanthan GKJ Wiladeg (Bejiharjo, Grogol, dan Karanganom) didewasakan oleh Majelis GKJ Wiladeg dengan nama GEREJA KRISTEN JAWA BEJIHARJO. Dengan demikian, GKJ Bejiharjo menjadi gereja dewasa, yaitu gereja yang menyelenggarakan organisasi gerejanya, menanggung semua jenis tanggung jawab dalam hal Pekabaran Injil dan Pemeliharaan Jemaat. Oleh karena itu GKJ Bejiharjo juga memiliki Majelis Gereja sendiri yang merupakan perangkat organisasi manajerialnya. Menurut catatan Sinode GKJ, GKJ Bejiharjo adalah gereja mandiri yang ke-299, yang berdiri sejajar dalam memikul tanggung jawab sebagai gereja kristen di Tanah Jawa yang terhimpun dalam Sinode GKJ.

Orang Kristen Pertama di Bejiharjo

Pada tahun 1936, seorang bernama Partowidjojo alias Sandino (beliau wafat awal tahun 2009 lalu) dari Dusun Ngringin yang terletak di bagian paling selatan Desa Bejiharjo mulai mengenal Kristus melalui pendidikan Zending yang terselenggara di Kota Wonosari, ibukota Kadipaten Wonosari pada waktu itu. Untuk menambah kawruh kekristenannya dan juga akan pengharapan mendapatkan pekerjaan, Sandino “ngenger” pada seorang Guru Injil di Kota Wonosari. Melewati rentang masa penjajahan, atas anugerah Tuhan dan dengan dukungan Guru Injil tersebut iman beliau tumbuh dan berkembang. Pada waktu jaman penjajahan Jepang, beliau sempat menjadi pejuang dalam barisan tentara PETA (Pembela Tanah Air). Setelah melewati masa revolusi fisik, beliau bekerja sebagai Pegawai Jawatan Kesehatan.

Pada tanggal 25 Desember 1962, Sandino yang telah berkeluarga dengan istri yang bernama Ngatirah dan telah dikaruniai 7 (tujuh) anak menerima sakramen baptis di gereja Wonosari (?) yang dilayankan oleh Pdt. Hadisiswoyo (?). Pada tahun 1967, Partowidjojo ditetapkan sebagai Majelis GKJ Wiladeg. Dari 9 (sembilan) jiwa dalam keluarga inilah jemaat Tuhan di Bejiharjo mulai tumbuh dan berkembang.

Timbulnya Kelompok PA Remaja/Pemuda di Bejiharjo

Timbulnya kelompok PA (Pemahaman Alkitab) atau generasi dahulu menyebutnya dengan istilah Bebel Kring (Bijbel Kring) diawali pada tahun 1959-1962-an. Dimana para remaja/pemuda saat itu menempuh pendidikan di SMP BOPKRI WANASARI. Para remaja/pemuda tersebut antara lain adalah: Sugimin (Alm), Sakidjo, Ester Muria, Aliman, Sumarni, dan Sumaryati. Dari kelompok kecil inilah kegiatan PA didirikan, kemudian menjadi berkembang baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga muncullah kelompok-kelompok PA seperti di Dusun Ngringin, Dusun Kulwo, Dusun Gunungsari, yang akhirnya kelompok ini menjadi Kring (wilayah dari sebuah pepanthan/induk seperti saat ini).

Timbulnya Sekolah Minggu

Sekolah Minggu di Desa Bejiharjo mulai diselenggarakan pada tahun 1964 yang bertempat di Dusun Ngringin dengan jumlah murid sebanyak 25 anak. Melalui perkembangan usaha dan melewati rentang waktu, kemudian berkembang kelompok Sekolah Minggu di Dusun Gunungbang (sebelah timur Dusun Gelaran, dekat Sungai Oya). Pada tahun 1965 tumbuh pula kegiatan Sekolah Minggu di Dusun Grogol. Perkembangan selanjutnya kelompok-kelompok tersebut akhirnya menjadi pepanthan (Bejiharjo dan Grogol).

Berdirinya Pepanthan Bejiharjo

Gereja Pepanthan Bejiharjo berdiri dan diresmikan pada tanggal 12 April 1972, bersamaan dengan perayaan hari Paskah. Pada tanggal itulah ibadah perdana diadakan di wilayah Desa Bejiharjo. Gedung gereja ini merupakan bangunan kayu yang cukup sederhana yang dibangun dan sementara menumpang pada tanah pekarangan keluarga Ibu Sastro (ibunda Sumaryati, ibu mertua (Alm) Sukardi Hs) di Dusun Gunungsari. Gelagar kayu untuk tulangan gedung diperoleh antara lain diperoleh dari bekas gelagar kayu dari gereja induk di Wiladeg. Dinding bangunan berupa gedhek (anyaman bambu), sedangkan lantainya masih berupa tanah liat dan sedikit wedhi (pasir) yang diambil dari kalenan sungai-sungai kecil di sekitar lokasi gereja. Kesederhanaan dan kebersahajaan bangunan gedung gereja, tidak mengurangi semangat jemaat Pepanthan Bejiharjo untuk terus berkarya menyaksikan Injil Kristus melalui berbagai macam kegiatan, seperti: ibadah minggu, perjamuan kudus, pelayanan nikah suci, Sekolah Minggu, Bebel Kring, dan pertemuan-pertemuan gerejawi lainnya.

Jumlah jemaat Kristen di Bejiharjo saat itu yang telah menerima sakramen Baptis Suci ada sekitar 91 orang, yang terdiri dari dewasa 72 orang dan babtis anak 19 orang. Jumlah tersebut tidak terhitung dengan warga yang karena tugas dan kewajibannya meninggalkan Desa Bejiharjo namun masih tercatat sebagai warga gereja Pepanthan Bejiharjo.

Wilayah pelayanan Gereja Pepanthan Bejiharjo saat itu meliputi seluruh wilayah administratif pemerintahan Desa Bejiharjo, kecuali wilayah Gunungbang yang dalam perkembangan kemudian masuk dalam wilayah Gereja Pepanthan Karanganom. Perlu diketahui bahwa Desa Bejiharjo saat itu terdiri dari 19 pedusunan yang juga menjadi wilayah pelayanan gereja. Dengan wilayah yang cukup luas itu, maka Gereja memiliki pelayanan yang tersusun dalam sebuah Majelis Gereja. Majelis Gereja tersebut terdiri dari Pinisepuh, Pendeta, dan Diaken. Pada waktu berdirinya Pepanthan Bejiharjo baru memiliki 2 (dua) orang anggota Majelis Gereja, yaitu Aliman Ds (Pinisepuh) dan Thobat Sakidjo (Diaken). Pada tahun 1974, dilakukan penambahan Majelis Gereja, atas diri Sukardi Hs dan Sugimin Tp, masing-masing bertugas sebagai Pinisepuh dan Diaken.

Untuk membantu tugas-tugas pelayanan jemaat dan pelayanan di masyarakat yang semakin berkembang, maka Gereja membentuk Komisi-Komisi yang bertugas membantu tugas Majelis. Komisi-komisi yang ada di Pepanthan Bejiharjo tersebut adalah: Komisi Wanita Jemaat, Komisi Pemuda, Komisi Sekolah Minggu, dan Komisi Sosial Ekonomi. Untuk dapat memangku tugas atau menjalankan tugas komisinya, Gereja secara rutin mengadakan usaha pengkaderan terhadap generasi mudanya, sehingga terjadi proses regenerasi dalam struktur kepengurusan di wilayah pepanthan ini.

Perkembangan Jemaat Kristen di Pepanthan Bejiharjo

Seiring dengan waktu yang berjalan dan perkembangan jumlah jemaat Kristen yang semakin bertambah secara kuantitas, sedangkan cakupan wilayah pelayanannya yang luas sekali dengan jarak antar satu kelompok dengan yang lainnya cukup berjauhan dan kondisi sangat minim sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi di waktu itu, serta disebabkan pula oleh kapasitas gedung peribadatan yang sudah tidak memadai lagi, maka dengan pelan namun pasti jemaat Pepanthan Bejiharjo berusaha untuk menyiapkan pepanthan baru yaitu Pepanthan Grogol.

Persiapan untuk itu dirintis sejak tahun 1985, dimana kelompok Jemaat Grogol telah mampu menyelenggarakan peribadatan sendiri dengan sarana dan prasarana yang sederhana. Peribadatan di Jemaat Grogol pertama kali menumpang di rumah Keluarga Antonius Kiman di Dusun Grogol IV, yang berjalan selama kurang lebih 2 tahun sembari menyiapkan rumah ibadah secara permanen. Dengan berbagai upaya yang dilakukan secara swadaya oleh Jemaat Grogol maupun oleh Gereja baik Induk GKJ Wiladeg maupun Pepanthan Bejiharjo, pada pada tahun 1987 kelompok jemaat Grogol telah berhasil membeli sebidang tanah seluas 225 m2 seharga Rp 700.000,00 dari tanah milik Sutrisno Hs, salah satu anggota jemaat Grogol yang berada di Dusun Grogol IV. Di tanah inilah, kelompok Jemaat Grogol membangun rumah ibadah sebagaimana yang diidam-idamkan sejak lama.

Pembangunan gedung gereja Pepanthan Grogol tersebut menghabiskan dana tak kurang dari Rp 1.723.640,00 dengan rincian biaya sebesar Rp 811.140,00 berasal dari swadaya jemaat dan sisanya berasal dari bantuan bergai pihak. Pada tahap berikutnya, gedung gereja ini diperluas dengan membuat teras dan menghabiskan dana sebesar Rp 212.500,00.

Karena telah memiliki tempat peribadatan sendiri dan jumlah warga pun cukup banyak dan makin bertumbuh dewasa dalam kemampuannya, selanjutnya kelompok Jemaat Grogol dianggap mampu untuk menyelenggarakan peribadatan, pelayanan khusus, dan kegiatan lain-lainnya secara tersendiri. Dengan pertimbangan itulah, melalui proses persidangan Majelis GKJ Wiladeg akhirnya ditetapkan kelompok Jemaat Grogol dipandang mampu dan layak untuk berdiri sendiri sebagai Pepanthan terlepas dari Pepanthan Bejiharjo. Pada hari Minggu tanggal 22 Mei 1988, kelompok Jemaat Grogol disahkan dan dinyatakan sebagai Pepanthan baru dan menjadi bagian dari GKJ Wiladeg yang memiliki hak dan kedudukan yang sama dengan pepanthan-pepanthan lainnya dalam wilayah pelayanan GKJ Wiladeg.

Ladang Persemaian Jemaat Diaspora

Demikianlah proses berkembangnya Gereja di wilayah Desa Bejiharjo dari awal sampai perkembangannya yang terjadi saat ini. Jemaat Pepanthan Bejiharjo dan Pepanthan Grogol terus berkembang maju dan bertumbuh. Seiring dengan perkembangan kualitas pendidikan generasi penerus dari pada perintis kekristenan di Desa Bejiharjo, juga berkembanglah proses urbanisasi penduduk yang melanda wilayah perdesaan di Kabupaten Gunungkidul pada umumnya. Semakin berkembangnya lapangan pekerjaan di luar sektor pertanian, telah mendorong arus urbanisasi di wilayah Desa Bejiharjo. Generasi pertama dan generasi kedua umat Kristen di wilayah Desa Bejiharjo tak pelak juga ikut terdorong dalam arus urbanisasi menjadi kaum perantau di kota-kota besar, seperti Yogyakarta dan sekitarnya, Surakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Jabodetabek, bahkan ada yang merantau sampai di kota-kota besar Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan.

Secara fisik dan kuantitas, jemaat Kristen di Desa Bejiharjo memang mengalami perkembangan stagnan, karena sebagian besar generasi mudanya menjadi “kaum perantau” dan/atau “kaum boro” di wilayah perkotaan. Namun demikian, jemaat Kristen di Desa Bejiharjo tetap “tidak merasa kehilangan”, karena toh mereka mereka yang menjadi “perantau” atau “kaum boro” tetaplah menjadi jemaat Kristen yang tangguh dan ulet dalam kerasnya perjuangan hidup, dan tidak sedikit pula di antara mereka yang menjadi motor penggerak gereja di mana mereka berjemaat di tanah perantauannya masing-masing.

Pertanyaan yang muncul kemudian, lantas apa urgensi Pepanthan Bejiharjo dan kedua pepanthan lainnya menjadi gereja mandiri? Tampaknya generasi pertama kekristenan di wilayah ini sadar betul, bahwa tugas mereka menjaga bahwa ladang persemaian bagi munculnya tunas-tunas kekristenan yang akan berdiaspora harus senantiasa tegak, tidak boleh mandeg. Tunas yang pergi dan bertumbuh dan berkembang di tanah seberang memang sudah menjadi kemestian. Tunas yang muncul perlu dipupuk, disiangi, sehingga akan menjadi kader yang berkualitas di manapun ia akan berada. Itulah tugas GKJ di ranah perdesaan.

Penyunting: ths, dlg, skr, hrw, jyw.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: